Arsip Bulanan: Mei 2009

cagar alam mutis yang terusik tambang

www.kabarntt.blogspot.com

Jika sekali waktu anda mengayunkan kaki ke Pulau Timor, maka singgah lah barang sehari dua malam di kaki Gunung Mutis. Jika tak sempat baca lah tulisan Cor Sakeng, aktivis LSM yang bekerja di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Ia punya cerita sedih untuk kita. Simak liputannya.
Berkunjung ke Kawasan Wisata Cagar Alam Gunung Mutis ungguh menarik. Sejuta flora dan fauna mempesona di dalamnya. Penampilan khas orang desa pun menambah kenangan tersendiri.

Seorang rekan jurnalis sebuah majalah besar di Jakarta terkagum-kagum menyaksikan pemandangan alam yang membentang di lereng Gunung Mutis, sesaat sebelum kami memasuki Kapan, kota Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju Gunung Mutis.

“Pemandangan alamnya sangat indah. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang berkesempatan mampir dan menikmati keindahan tanah Timor. Tapi semua ini butuh promosi dari Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten TTS,” kata Rahmat, rekan jurnalis, saat kami merapat di Kapan.

Barangkali banyak orang yang belum tahu letak kawasan wisata andalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTS ini. Padahal, kawasan wisata ini sudah sangat dikenal di kalangan peneliti asing seperti Australia dan Belanda. Tapi dimana letak sesungguhnya Kawasan Wisata Cagar Alam Gunung Mutis?

Lanjut membaca

NASIB GUNUNG MUTIS

Sumber Yan Meko/NTT Online

WILAYAH Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seperti umumnya daratan Timor bersuhu udara panas antara 28 sampai 36 derajat Celcius. Tapi ada juga wilayah yang sejuk, bahkan dingin hingga hanya belasan derajat Celcius, misalnya kawasan pegunungan gunung atau dataran tinggi Mutis.

Di wilayah ini menjulang Gunung Mutis, gunung tertinggi di Pulau Timor. Di Gunung Mutis yang tingginya 2.427 meter di atas permukaan laut ini tumbuh berbagai flora khas Timor antara lain pohon ampupu (Eucalyptus urophylla), hue (Eucalyptus alba), natbona (Pittospermum timorensis), habubesi (Olea paniculata), cendana (santalum album). Fauna penghuni kawasan Gunung Mutis antara lain betet timor (Apromictu jonguilaceus), punai timor (Treon psittacea), kuskus (Phalanger orientals), ular sanca timor (Phyton timorensis). Lanjut membaca

Sejarah & mengenal Rock Climbing ( panjat Tebing )

sources
Doc. Mahipa

SEJARAH PANJAT TEBING
Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.
Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan. Lanjut membaca

Menggapai Puncak Sejati Gunung Raung

hobi1
M.Firdaus/dok. Mapala UI
Kawah Gunung Raung dilihat dari puncak sejati.

JAKARTA – Siapa yang meragukan kemegahan gunung Raung? Gunung di Jawa Timur ini termasuk ”12 besar” puncak gunung Indonesia. Ini sebutan khas untuk dua belas puncak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 m dpl. Kemegahan Raung bukan saja diukur dari tingkat kesulitan trek, tetapi juga kelebihan tantangannya. Tak semua pendaki mampu mencapai puncak sejati gunung ini. Lewat rute normal, desa Sumber Wringin, para pendaki cuma mentok sampai bibir kawah, sekitar 3.100 mdpl.

Dari rute normal tersebut, kalau ingin mencapai puncak sejati kita harus melipir bibir kawah. Ini jelas pekerjaan berbahaya, malah kalau boleh dibilang hampir tidak mungkin. Salah sedikit, nyawa taruhannya. Itu sebabnya, sampai sekarang belum ada yang berhasil.
Puncak sejati Gunung Raung adalah 3.328 m dpl dan terletak di sisi selatan. Dari keterangan penduduk desa, diketahui telah beberapa kali upaya mencapai puncaknya dilakukan beberapa tim, baik dari lokal maupun mancanegara. Namun, tidak ada yang berhasil. Hal itulah yang membawa tim dari Mapala UI pada bulan April 2003 kemarin mendaki dari sisi selatan, tepatnya di Kecamatan Glenmore, untuk melakukan penjajakan mencapai puncak sejati Gunung Raung. Lanjut membaca