Menggapai Puncak Sejati Gunung Raung

hobi1
M.Firdaus/dok. Mapala UI
Kawah Gunung Raung dilihat dari puncak sejati.

JAKARTA – Siapa yang meragukan kemegahan gunung Raung? Gunung di Jawa Timur ini termasuk ”12 besar” puncak gunung Indonesia. Ini sebutan khas untuk dua belas puncak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 m dpl. Kemegahan Raung bukan saja diukur dari tingkat kesulitan trek, tetapi juga kelebihan tantangannya. Tak semua pendaki mampu mencapai puncak sejati gunung ini. Lewat rute normal, desa Sumber Wringin, para pendaki cuma mentok sampai bibir kawah, sekitar 3.100 mdpl.

Dari rute normal tersebut, kalau ingin mencapai puncak sejati kita harus melipir bibir kawah. Ini jelas pekerjaan berbahaya, malah kalau boleh dibilang hampir tidak mungkin. Salah sedikit, nyawa taruhannya. Itu sebabnya, sampai sekarang belum ada yang berhasil.
Puncak sejati Gunung Raung adalah 3.328 m dpl dan terletak di sisi selatan. Dari keterangan penduduk desa, diketahui telah beberapa kali upaya mencapai puncaknya dilakukan beberapa tim, baik dari lokal maupun mancanegara. Namun, tidak ada yang berhasil. Hal itulah yang membawa tim dari Mapala UI pada bulan April 2003 kemarin mendaki dari sisi selatan, tepatnya di Kecamatan Glenmore, untuk melakukan penjajakan mencapai puncak sejati Gunung Raung.
Tantangan pertama yang disajikan Raung adalah vegetasi hutan yang sangat lebat dan berduri. Setelah rintangan tersebut diatasi, berikutnya rintangan khas berupa jurang di antara jalur pendakian dengan puncak sejatinya.
Penduduk lokal menamakan jurang tersebut sebagai ”curah malang” yang berarti jurang dalam yang melintang. Dari berbagai cerita, di sinilah semua tim ekspedisi sebelumnya menemui kegagalan.
Namun keberadaan ”curah malang” tersebut tidak kami jumpai selama pendakian mencapai puncak tertingginya. Mungkin, apa yang dimaksud dengan curah malang adalah dua sungai besar yang beriringan membelah lembah gunung Raung sisi selatan menjadi dua bagian yaitu wilayah Glenmore dan wilayah Kalibaru.
Mitos itu sekarang telah hilang karena tim kami dan seorang penduduk yang kami jadikan porter berhasil sampai puncaknya tanpa harus melewati dan terjebak di curah malang yang sangat melegenda bagi penduduk setempat.

Kaya Satwa
Dalam menempuh rute yang kami jajaki yaitu jalur Glenmore, diperlukan waktu lima hari untuk sampai di batas vegetasi daerah yang sudah tidak ditemukan tumbuh-tumbuhan. Hutan di bawahnya masih sangat lebat dengan aneka satwa yang beragam, sesekali masih dijumpai burung rangkong yang melintas di atas kita, siamang, dan ular-ular berukuran besar.
Kawasan ini juga dicurigai sebagai kawasan harimau jawa yang telah dinyatakan punah. Namun beberapa penduduk masih meyakini bahwa harimau jawa masih ada. Jika ditinjau dari lebatnya hutan, memang masih memungkinkan satwa langka seperti harimau jawa hidup.
Selain keberadaan satwa di atas, ada suguhan yang utama dari Gunung Raung yaitu kemegahan kawahnya. Kawah Gunung Raung adalah kawah terbesar di Pulau Jawa dengan diameter hampir 2 km dan kedalaman vertikal 500 m, di mana di tengah kawah menjulang setinggi 100 meteran bentukan gunung yang selalu mengeluarkan asap putih belerang.
Gunung Raung termasuk jarang dikenal orang bahkan peminat pendaki. Hal ini disebabkan masih sedikitnya informasi pendakian yang naik ke puncak gunung Raung serta rapatnya hutan yang menutupi jalur pendakian, medan yang dibilang perawan inilah yang membawa kami untuk mengagumi kawah terbesar di Pulau Jawa.
Objek wisata Gunung Raung belum begitu diminati pengunjung karena kurang seterkenal objek wisata yang terletak di sebelah timurnya, kawasan kawah Ijen. Di Ijen kita dapat menjumpai pemandangan yang indah, sehingga wisatawan lokal ataupun asing setiap hari menyaksikan pesona Kawah Ijen diselingi para pekerja yang mengangkut belerang.

Dua Rute Baru
Menuju puncak sejati Raung kini ada dua rute baru. Yang pertama, jalur Kalibaru. Jalur ini dikategorikan sulit karena setelah melewati batas vegetasi, pendaki dihadapkan pada punggungan tipis yang terjal dan berpasir dengan kemiringan antara 40-70 derajat.
Untuk jalur Kalibaru yang telah dirintis oleh Klub Pecinta Alam Pataga Untag Surabaya tahun 2002 paling sulit dan menantang para avonturir, karena harus melewati puncak Gunung Wates. Pendaki harus menuruni gunung Wates dan masuk lagi satu gunungan kecil pipih menjulang sehingga tercipta jurang yang dalam. Kalau mau melewatinya harus mendaki puncaknya yang tipis ataupun travers di dinding tebing sepanjang 50 m di salah satu dinding pugunungan ini.
Setelah itu pemanjatan semi-scrambling dengan pengaman tali tentunya menyusuri dinding puncakan tertinggi yang mudah rontok dengan travers ke sisi timur untuk melewati dua jurang dalam baru kemudian lurus melakukan pendakian mencapai puncaknya.
Jalur baru yang kedua adalah Glenmore. Ini rute baru yang dirintis Mapala UI pada Mei lalu. Rute ini tidak langsung mendapatkan puncak tertingginya, melainkan harus melewati dulu Puncak Glenmore setinggi 3.277 m yang berada di sisi Timur puncak tertingginya. Habis itu baru melipir menyusuri bibir kawah Gunung Raung ke arah Barat yang merupakan puncak tertinggi. Setelah melewati batas vegetasi, jalur punggungan mencapai puncak Glenmore yang cukup tipis dan kiri kanan berupa pasir yang melorot jika diinjak. Di sini butuh waktu dua jam untuk sampai puncak Glenmore dari batas vegetasi.
Jika beruntung—cuaca cerah setelah hujan—kita akan melihat pemandangan yang memukau di sisi barat dua air terjun bertingkat setinggi 100 meteran mengucur memasuki cerukan besar jurangnya hulu Sungai Kajarolo. Sedang di belakang, ada pemandangan sisir pantai selatan Banyuwangi sampai ke selat Bali. Saat malam mulai merambat, tampak gemerlap lampu dua kota yaitu Glenmore dan Kalibaru.
Dalam menyusuri bibir kawah diperlukan usaha ekstra hati-hati karena kanan kita berupa kawah vertikal 500 meter dan kiri berupa lembah dengan kemiringan 40-70 m dan bebatuan berpasir melorot. Walaupun tidak lebih 1 km bila diukur horizontal, dari puncak Glenmore ke puncak sejati dibutuhkan sekitar seharian penuh karena jalannya harus setengah merangkak. Ketimbang jalur Kalibaru, Glenmore lebih bersahabat. Sebab, kita akan mudah menemukan cukup banyak air. Air tersebut terdapat di dalam cerukan-cerukan di jurang.
Untuk bisa sampai di puncak tertingginya lebih baik bermalam jika sudah mendekati sore, baru besok paginya kita bisa mengejar sunrise dari timur. Anda tidak disarankan tinggal lama di puncak. Biasanya lewat jam 8 pagi kabut terus menyelimuti puncak ini dan Anda tidak mendapatkan pemandangan terbaik.
Alat pemanjatan mutlak diperlukan. Para pendaki gunung jawa timuran sering menyebut gunung Raung sebagai gunung tersulit didaki di Jawa. Di jalur Umum Sumberwringin saja orang harus melakukan scrambling dan harus hati-hati tanpa beban. Karakter seputaran Sisi selatan puncak tertinggi Gunung Raung pada dasarnya hampir sama berupa batu dan pasir yang mudah rontok. Maka siapkan peralatan ekstra—seperti tali karmantel minimal 50 m, harnes, figur, pasak yang panjang, dan cangkul kecil atau ice axe—jika Anda berniat mendaki gunung tersulit di Jawa Timur ini untuk rute yang mana pun yang Anda pilih.
(bambang wijiatmoko)
sinar harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s