NASIB GUNUNG MUTIS

Sumber Yan Meko/NTT Online

WILAYAH Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seperti umumnya daratan Timor bersuhu udara panas antara 28 sampai 36 derajat Celcius. Tapi ada juga wilayah yang sejuk, bahkan dingin hingga hanya belasan derajat Celcius, misalnya kawasan pegunungan gunung atau dataran tinggi Mutis.

Di wilayah ini menjulang Gunung Mutis, gunung tertinggi di Pulau Timor. Di Gunung Mutis yang tingginya 2.427 meter di atas permukaan laut ini tumbuh berbagai flora khas Timor antara lain pohon ampupu (Eucalyptus urophylla), hue (Eucalyptus alba), natbona (Pittospermum timorensis), habubesi (Olea paniculata), cendana (santalum album). Fauna penghuni kawasan Gunung Mutis antara lain betet timor (Apromictu jonguilaceus), punai timor (Treon psittacea), kuskus (Phalanger orientals), ular sanca timor (Phyton timorensis).

Gunung Mutis yang sudah dijadikan Taman Nasional sering dijuluki Ibunya Pulau Timor. Menurut data World Wide Fund (WWF), di kawasan Gunung Mutis yang terletak dalam wilayah Kabupaten TTU dan TTS, pada tahun 1980-an terdapat sekitar 400 titik sumber air. Tapi kini, di Gunung Mutis, tempat berhulu tiga sungai besar yakni Noelmina, Benanain dan Oebesi, hanya tersisa sekitar 40 titik sumber air.
Penebangan liar merusak hutan kawasan konservasi dan daerah tangkapan air menyebabkan sumber-sumber air mengering. Sebagian dari sekitar 46.000 petani dan peternak yang tinggal di sekitar Taman Nasional Gunung Mutis masih terus menebas hutan dan membakar bumi secara sporadis. Dengan meluasnya pemilikan gergaji mesin (chain saw) yang oleh lidah orang Timor disebut sensor, pohon-pohon besar terus bertumbangan.
Berbicara tentang petani Pulau Timor berarti kita berbicara tentang alienasi ekologis. Petani sekarang hidup tanpa aturan, mereka main tebas dan bakar, menyepelekan tatanan adat dan UU Lingkungan Hidup. Dulu petani Timor dikendalikan oleh seorang Tobe (kepala sub suku). Tobe biasanya mengarahkan warga untuk membuka lahan di satu lokasi tertentu saja, tentu dengan berbagai pertimbangan. Tapi kini fungsi Tobe sudah tidak ada lagi bersamaan dengan pudarnya peranan lembaga adat, jelas Willi Silab, pengamat lingkungan di TTU sembari memperlihatkan tulisannya mengenai lingkungan hidup.

Terpaksa Makan Putak

Kemarau yang panjang dan munculnya hama belalang di bagian pesisir wilayah TTU yang didiami oleh warga sembilan desa telah melumpuhkan upaya warga untuk mendapat hasil tani ladang atau sawah. Warga terpaksa berbondong-bondong menebang pohon gewang (Corypha elata), mengupas kulitnya dan mengambil serat batangnya (putak) untuk dijadikan makanan.
Putak itu dicincang kemudian dijemur lalu ditumbuk hingga menghasilkan tepung. Selembar seng yang dilubangi menggunakan paku dijadikan saringan, karena itu tepung yang tersaring cendrung kasar. Tepung kasar itu dicampur lagi dengan parutan kelapa lalu dibakar atau direbus untuk dimakan warga segala umur. Pencernaan balita yang belum begitu kuat menyebabkan banyak yang menderita diare, kurang gizi lalu busung lapar (marasmus). Putak yang biasanya untuk makanan ternak babi, kini malah jadi santapan manusia di kawasan pantai utara kabupaten Timor Tengah Utara.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, sampai September 2007 sudah tercatat 7.267 balita menderita kurang gizi, 1.466 balita menderita gizi buruk dan 35 balita menderita gizi buruk dengan kelainan klinis dan 7 balita lainnya meninggal.
Semua ini dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi oleh para petani Timor. Mereka main tebas bakar, ikut memberi andil pada perubahan iklim. Sering di musim hujan malah hujan tidak turun-turun hingga tanaman pertanian layu dan mati meranggas. Para petani harus mengubah pola pertanian dengan berkebun tetap.
“Tanah atau ladang tidak boleh lagi dibakar tetapi diluku saja. Sudah saatnya petani melakukan sekali tanam tetapi panen berulang-ulang. Perkebunan adalah langkah yang tepat untuk petani Timor. Terasering, olah lubang dan olah jalur adalah alternatif untuk menyuburkan tanah,” tutur Yohannes Don bosco Nuwa, aktivis lingkungan hidup yang bergabung dalam Yayasan Mitra Tani Mandiri, Kefamenanu.
Menyaksikan berbagai kegiatan manusia di pedalaman Timor yang tidak ramah lingkungan, muncul pertanyaan: Masih mungkinkah lahan pertanian Kabupaten Timor Tengah Utara yang seluas 74.308 ha, perkebunan seluas 8.440 ha, hutan seluas 69.325 ha serta padang rumput seluas 74.071 ha bisa dilestarikan?
Sebelum terlambat, bumi Timor harus diselamatkan dengan kesadaran sendiri. Di sini seruan para pemerhati lingkungan hidup perlu didengar. Petani perlu pendampingan agar kembali mencintai lingkungannya, diberi pengetahuan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim harus dihadapi dengan langkah adaptasi dan mitigasi. Main tebas dan bakar dan main tebang pohon bukan cara yang cerdas dan bijak menghadapi iklim yang semakin tidak ramah.
Semuanya harus bersama-sama berpikir dan bertindak menyelamatkan Bumi. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), panel para ilmuwan untuk perubahan iklim mengingatkan, usia planet Bumi tinggal 70-100 tahun lagi bila tidak ada perubahan perilaku dan upaya bersama umat manusia meredam laju pemanasan global. Semua harus bersama-sama berpikir dan bertindak menyelamatkan Bumi dan tentu saja tanah Timor. Mumpung masih ada kesempatan buat kita.., begitulah penggalan syair lagu Ebiet G Ade. Jangan sampai terlambat, jangan sampai kesempatan yang masih ada hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s